Ketika dunia terbuka lebar bagi manusia dan melimpah di tangan mereka, maka di satu sisi, dikhawatirkan mereka akan sibuk dengannya, dan dikhawatirkan pula mereka lalai dari perhatian terhadap amalan-amalan wajib dan sunnah.
Sebelumnya telah kita bahas juga tentang menyibukkan diri dengan Al-Qur’an melalui hal-hal mubah, termasuk urusan dunia, bahwa perkara dunia sering kali melalaikan dari hal-hal yang mubah.
Dikisahkan ada dua ulama yang berdebat, lalu salah satunya dapat mengalahkan yang lain. Maka ulama yang pertama pun mengemukakan alasannya, “Mohon maklumi saya, karena saya belajar di atas pelana para penjaga. Saya orang miskin.”
Ulama yang kedua menjawab, “Tidak. Bahkan alasanku lebih berat daripada alasanmu, sebab dahulu aku menuntut ilmu di atas pelana yang terbuat dari emas.” Karena dulu ayahnya termasuk pemuka kaumnya. Sebab jika perkara duniawi melimpah di tangan seseorang, pasti menghalangi dan menyibukkannya dari ilmu, menghalangi dan menyibukkannya dari ketaatan, menghalangi dan menyibukkannya dari Al-Qur’an, dan berbagai hal lainnya.
Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda—apabila hadis ini sahih—“Perkara yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah ketika dunia dibukakan bagi kalian.” Lalu, apa jalan keluarnya? Disebutkan dalam sebuah riwayat mursal yang dinukil oleh Abu Dawud dalam kitab Al-Marasil, “Jalan keluarnya adalah apabila dunia dibukakan bagi kalian, maka bersyukurlah kepada Allah.” Bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla, pertama-tama dilakukan dengan menyebutkan nikmat-nikmat-Nya. “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka ceritakanlah.” (QS. Adh-Dhuha: 11). Ibnu Ishaq berkata, “Ketika ayat ini diturunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengumpulkan keluarga yang beliau cintai, lalu menyampaikan kepada mereka nikmat-nikmat Allah yang dianugerahkan kepadanya.”
Ingatlah selalu nikmat-nikmat yang Allah limpahkan kepadamu, dan ceritakanlah nikmat-nikmat Allah ‘Azza wa Jalla yang dianugerahkan kepadamu. “Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. An-Nahl: 18). Sebab, orang yang tidak membiasakan diri menyebut nikmat, akan merasa keadaannya selalu kurang, dan pikirannya justru tertuju pada nikmat yang ada pada orang lain. Akibatnya, ia terhalang dari merasakan kenikmatan nikmat itu sendiri. Aku tidak mengatakan ia tertimpa musibah, tetapi terhalang dari kenikmatan. Kamu punya seribu, sedangkan aku punya lima ratus. Aku pun berharap punya seribu sepertimu. Lalu aku menjadi sibuk mencari tambahan, hingga jiwaku menyempit dan dipenuhi kegelisahan serta kesedihan.Maka, ingatlah selalu nikmat-nikmat Allah, dan biasakanlah menyebut nikmat-nikmat Allah tersebut.
Kemudian yang ketiga, setelah mengingat dan menyebutkannya, syukurilah nikmat itu dengan lisanmu, dan syukurilah pula dengan ibadahmu, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla, “Beramallah, wahai keluarga Dawud, sebagai wujud syukur. Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang benar-benar bersyukur.” (QS. Saba: 13).
======
الدُّنْيَا إِذَا فُتِحَتْ عَلَى النَّاسِ وَكَثُرَتْ فِي أَيْدِيهِمْ فَإِنَّهُ يُخَافُ عَلَيْهِمْ الِانْشِغَالُ بِهَا مِنْ جِهَةٍ وَيُخَافُ عَلَيْهِمْ عَدَمُ الْعِنَايَةِ بِالْأُمُورِ الْوَاجِبَةِ وَالْمَنْدُوبَةِ
وَقَدْ مَرَّ مَعَنَا الِانْشِغَالُ بِالْقُرْآنِ بِالْمُبَاحَاتِ مِنْهَا الدُّنْيَا الدُّنْيَا تُشْغِلُ عَنِ الْمُبَاحِ
وَقَدْ جَاءَ أَنَّ عَالِمَيْنِ تَنَاظَرَا فَغَلَبَ أَحَدُهُمَا الآخَرَ فَقَالَ الْأَوَّلُ مُعْتَذِرًا عَنْ نَفْسِهِ اُعْذُرْنِي فَقَدْ كُنْتُ أَطْلُبُ الْعِلْمَ عَلَى سَرْجِ الْحُرَّاسِ أَنَا كُنْتُ فَقِيرًا
فَقَالَ الثَّانِي لَا بَلْ أَنَا أَشَدُّ اعْتِذَارًا مِنْكَ فَقَدْ كُنْتُ أَطْلُبُ الْعِلْمَ عَلَى سَرْجٍ مِنْ ذَهَبٍ لِأَنَّ أَبَاهُ كَانَ مِنْ عِلْيَةِ الْقَوْمِ فَالدُّنْيَا إِذَا كَثُرَتْ فِي يَدِ الْمَرْءِ حَجَزَتْهُ وَشَغَلَتْهُ عَنِ الْعِلْمِ حَجَزَتْهُ وَشَغَلَتْهُ عَنِ الطَّاعَةِ حَجَزَتْهُ وَشَغَلَتْهُ عَنِ الْقُرْآنِ وَعَنْ غَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأُمُورِ الْكَثِيرَةِ
لِذَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ إِنْ ثَبَتَ أَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ مَا يُفْتَحُ عَلَيْكُمْ مِنَ الدُّنْيَا مَا الْمَخْرَجُ؟ جَاءَ فِي خَبَرٍ مُرْسَلٍ عِنْدَ أَبِي دَاوُدَ فِي الْمَرَاسِيلِ قَالَ الْمَخْرَجُ مِنْ ذَلِكَ إِذَا فُتِحَتْ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا فَاشْكُرُوا اللَّهَ شُكْرُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
وَشُكْرُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يَكُونُ أَوَّلًا بِتَعَدُّدِ النِّعَمِ وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ قَالَ ابْنُ إِسْحَاقَ لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمَعَ مَنْ يُحِبُّ مِنْ أَهْلِهِ فَحَدَّثَهُ بِنِعَمِ اللَّهِ عَلَيْهِ
دَائِمًا اذْكُرْ نِعَمَ اللَّهِ عَلَيْكَ حَدِّثْ بِنِعَمِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكَ إِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا لِأَنَّ الَّذِي لَا يَتَحَدَّثُ بِالنِّعَمِ سَيَسْتَنْقِصُ حَالَهُ وَيَتَذَكَّرُ النِّعَمَ الَّتِي عِنْدَ غَيْرِهِ مُنِعَ النِّعَمُ لَا أَقُولُ عِنْدَهُ نِقْمَةٌ وَإِنَّمَا مُنِعَ النِّعَمُ عِنْدَكَ أَلْفٌ وَعِنْدِي خَمْسُ مِئَةٍ أَتَمَنَّى أَنْ يَكُونَ عِنْدِي أَلْفٌ مِثْلُكَ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ تَنْشَغِلُ نَفْسِي بِطَلَبِ الزِّيَادَةِ وَتَنْقَبِضُ نَفْسِي وَيُصِيبُهَا مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ الشَّيْءَ الْكَثِيرَ إِذًا دَائِمًا تَذَكَّرْ نِعَمَ اللَّهِ وَتَحَدَّثْ بِنِعَمِ اللَّهِ
ثُمَّ ثَالِثًا بَعْدَ التَّذَكُّرِ وَالتَّحَدُّثِ اشْكُرْهَا بِلِسَانِكَ وَاشْكُرْهُا بِعِبَادَتِكَ كَمَا قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ